Sahabatku
Nama:Alfin Mushonnif
Kelas : 1B
Nim :12001080
Prodi : PAI
Biografi : Sahabatku
Dia adalah seorang lelaki gagah dan baik hati, dia adalah temanku
sejak kecil. Rifqi namanya, biasanya orang memanggilnya kacik, namun sebenarnya
ia memiliki nama panjang Muhammad Rifqi.Banyak temanku yang baru sering salah
kira, bahwa pemilik nama tersebut adalah seorang anak perempuan kalau tidak
tahu nama panjangnya. Kacik lahir di Singkawang pada tanggal 15 November 2000.
Dia dibesarkan dari keluarga yang cinta akan pendidikan.
Dimasa kecilnya kacik sering menghabiskan waktunya untuk bermain
sepak bola. Dan saat SMA, dia masih tetap suka bermain bola,ia sering kali
tidak masuk sekolah karena harus berkerja.lulus dari sekolahnya dengan nilai
yang cukup memuaskan.
Cita-cita kacik adalah menjadi seorang pemain bola terkenal yang
dikenal serta digemari banyak orang. Kini dia tengah sibuk menyelesaikan
pekerjaannya dia membuka usaha bengkel dirumahnya sambil terus bekerja keras
untuk membantu kedua orangtuanya.
Meski kalian belum tentu sudi menerima kehadiran cerita ini,
izinkan aku untuk mencurahkan melalui tulisan sederhana yang mungkin bahkan tak
akan pernah sempat kau baca. ''Sahabat, kita saling mengenal meski tak terlalu
dalam 3 tahun pertemuan singkat yang mungkin hanya kau anggap angin berlalu,
ternyata membekas di ingatanku. Dulu sepertinya tak pernah terbayang memiliki
cerita yang begitu indah. Meski malu harus kuakui kini kalian telah menjadikan
kenangan dalam hidupku. Tulisan yang dulunya hanya kupersembahkan untuk diriku
sendiri, kini harus di bagi dengan orang lain.
''Tahukan kalian, bahwa kehadiran kalian dulu telah membuatku
belajar tentang arti kehidupan?''ini adalah cerita tentang rasa rinduku yang
telah kuperjuangkan, tanpa tahu akhirnya apa yang harus aku tulis?
Aku kembali untuk menuliskan apa yang ada di masa lalu, masa yang
membawaku pada detik ini. Di senja penghujung tahun. Tiga tahun yang membawa
cerita, angka tiga yang menyadarkan dan menyandarkan. Sejenak dengan keputusan
terbesar dalam sejarah narasiku untuk meninggalkan mereka, bukan hal yang
mudah. Tetapi umur yang kuterima lebih dari yang kuharap. Perpisahan yang
justru menjadikan indahnya sebuah pertemuan.
Waktu yang tak kusadari kian berjalan tanpa peringatan, sahabat
yang bersama dan tak lekang. Tidakkah selalu ingin kusadari bahwa mereka orang
pertama yang mengenalkanku pada “dunia”, mereka yang selalu menjagaku di antara
kelemahan, mereka pengantar terbaik dewasaku.
Dan adilnya waktu, tak pernah sedetik pun membuatku lekang, aku dan
mereka dengan Almamater berwarna biru sebagai lambang sekolah kami.
Pertengahan dua ribu dua belas, juga meninggalkan mereka dalam
gerimis perpisahan pada hari di mana satu-satunya gerbang yang selama ini memenjarakan
aku dan mereka, seragam putih biru yang harus terlepas dengan paksa. Keindahan
sejenak itu sirna karena diseretnya aku oleh sang waktu untuk beranjak. Kini,
detik kemarin juga membawaku pada detik ini, menginginkanku untuk kembali
menuliskan tentang kita dan kalian. tentang kilau kemarin yang menjadikanku
kini bermimpi tentang gemintang, lalu beranjak untuk menjadikannya nyata.
Waktu demi waktu yang memisah, tak membuat jengah kita dan kami
untuk bertatap lalu saling bercerita, mengenang dan mencairkan kerinduan yang
lama mengkristal. Rindu yang selalu terpanggil menjadikanku ada, menjadi
kembalinya aku dan sesungguhnya aku, di antara kalian, sejadi-jadinya Narasi
demi narasi laksa gravitasi dalam ruang atmosfer yang berbeda seratus delapan
puluh derajat dari tempat kakiku menginjak selama ini. Hadir demi kehadiran,
penerimaan dan kekalahan adaptasi. buatku belajar banyak hal tentang kalian,
tentang kota ini, tentang kita, dan makna “Aku Sayang Kita” yang tak lekang
oleh perbedaan. Perbedaan yang menjadikanku indah dengan kenangan.
"Ya, kenangan. Mengajarkan kehadiran dan kebersamaan. Keluarga
yang sebenar-benarnya keluarga, bukan sekedar tempat singgah tapi tempat
kembali pulang dalam lelah, tidak sekedar raga tapi juga rindu.
Mereka kini, yang nyata, menjadi satu-satunya rumahku di kota ini,
masih dan selalu. Sedari kaki menginjak tanah yang penuh keramahan ini, hingga
tugas usai kutunaikan. Tak berhenti pada satu waktu, sekedar kembali hanya
untuk kembali duduk bersama tanpa ruang dan waktu yang menyekat. Hanya aku dan
mereka, keluarga tanpa syarat. Sahabat tanpa kata berlebih, pemaknaan yang
berbatas pada kata bersama, dan yang tak berbatas pada perpisahan tanpa arti.
Ini tentang mimpi dan impian yang dibangun dalam satu atap yang
sama, tentang kata hati yang tak pernah berdusta, tentang sebuah keluarga kedua
yang tak menghakimi karena kehidupan. Hanya tentang sebuah rumah untuk kembali,
untuk bersama, untuk mencitakan Surga dengan adanya kita, aku dan kalian, aku
dan mereka, mereka dan kita. Inilah sebatas cinta yang beriring dalam lafaz
untuk kalian. Menemukan keping demi keping artiku, menjadikanku lebih berani
menatap sang mentari, kilau yang membunuh retina. Menusuki tanpa geram.
Rumah tanpa batas, ruang tanpa waktu, detik tanpa arloji. MTs Yasti
Singkawang. Di sana aku ada tanpa sengaja dan dengan kesengajaan aku bertahan.
Seorang lawan yang menjadi kawan dan sanggup menjadi kuat dengan perlawanan.
Satu-satunya benteng tak berujung. Pengajar dan pendidik tentang kepemimpinan
yang baik. Tentang keluarga dan sahabat. Juga amanah tertinggi terbilang, tidak
mengecewakan.
''Ya, sang waktu yang membuatku mengenal sejuta keindahan dari
hidup ini. Berada di puncak itu bersama mereka, belajar dan mengajar tentang
Agama yang senantiasa mengindahkan, saling menghargai. Bukan waktu yang tak
memihak, hanya jalan yang harus ditempuh. Berujung pada kenangan tanpa kata,
tanpa sebuah pertemuan. Narasi demi narasi yang menjelma retorika, terpelanting
dari logika yang membunuh vaskular, perlahan dan pasti. Merekalah sukma.
Mushollah yang mengkaram kenangan, kegiatan demi kegiatan pengajian
yang menjadikan bersama. Itulah kita dan mereka. Aku dan kalian. Juga terselip
aku dan dia di antara kita. Benar silih pergantian sang waktu yang tak
terkendali, mengganti satu cerita dengan kehadiran cerita yang anggun lainnya.
Semua memang selalu memiliki ruang tersendiri dan entah, kenangan
yang pernah hadir, teman yang menjadi bagian dari narasi yang kutulis setiap
malam. Juga tak akan lekang oleh ruang. Hanya kata, terima kasih sudah turut
hadir mewarnai jalannya cerita ini. Tapi perlu diketahui juga, tidak hanya
mereka, tapi juga tentang kalian. Namun sayang, tak terkuak oleh gambar.
Hanya setitik retorika yang ada di lain pihak.
Warna-warni keluarga , Jakarta dan Kenangan, larut dalam sejarah
kebersamaan yang terus merajam agar tak lekang. Hadir dan tak pernah berhenti
untuk saling menyapa hingga meski detik tak lagi sama. Di saat pun tiba
teriakan tak lagi memekak, alunan menenggelamkan dan membawaku pada dasar
palung yang tak tertuai oleh kata, ''jiwa yang menggentar muda dalam realita.''
Kembali teman dan keluarga. Mengajarkan banyak hal tentang
sebenar-benarnya kehidupan.
Menjadi bagian sebagai orang yang terlibat dalam cerita itu
menyenangkan, bertemu orang-orang baru, pengalaman baru, yang tidak berkutat
pada kehidupan dan kebisingan semata.
Menemui bagian terpenting dari narasi segala-gala narasi yang
hadir. Sahabat tanpa syarat. Penerimaan tanpa kata. Keluarga dari segala-gala
keluarga. Mereka yang menjadi kalian, dan kini menjadi kita, dan selamanya
kita.
Seorang Guru yang tak sekedar Guru, yang cintanya tak sekedar cinta
manusia. iya seorang guru dan cover biru langitku adalah bukti kebenaran cinta
tak berujung. Bukti sebuah kekuatan tanpa kata.
Cinta demi cinta lain menampak jelas tanpa kaburan sang senja yang
meringkuk mundur, sejenak. Tapi sahabat yang menjadi keluarga tanpa isyarat.
Menjadikanku berarti dengan sejuta cinta yang dipersembahkannya untuk semesta.
Dan lebih sanggup untuk ada. Bukanlah ujung dari segala ujung, hanya awal dari
kenyataan. Lingkaran kincir yang beradu, antara impian dan kenyataan. Bahwa
kembali kata pisah yang harus ditemui, bukan akhir, tapi awal untuk bertemu
kembali, dipertemukan oleh kehidupan. Aku, kamu, dan kalian, juga kita, karena
benar adanya “Aku Sayang Kita” yang tak kan pernah lekang oleh ruang dan sang
arloji bisu. Pertengahan 2017 yang paling gamang untukku.
Tapi inilah yang terpenting dari sekian perjalanan singkat narasi ,
Yang menjadiku lebih dari sekedar kata sanggup. Yang menjadikan lebih dari
sekedar berarti, meski tanpa kata, tanpa syarat, dan tanpa isyarat. Di sinilah
impian di bangun bersama kita. Tentang sebuah keluarga, sahabat, juga
persaudaraan. Orang-orang yang hadir dalam narasi jemariku, silih berganti
namun tak akan pernah lekang barang sejentik.
Inilah satu-satunya impian yang ingin kubangun di masa depan. Di
tahun bilamana waktu masih mengijinkanku berada di sana, tentang sebuah cinta,
tentang suatu keluarga, tentang kecintaan akan damai sabana dalam senja, yang
diharumi oleh kesucian kelopak-kelopak melati.
Komentar
Posting Komentar